Cintaku Terukir (Cerpen)

Standar

“Di tahun-tahun tertentu,ada kalanya sang bintang turun menjemput dan menyapa jiwa yang tenang…..”
Itulah sepenggal bait puisi yang terngiang di fikiran Arjun saat memandang langit di halaman depan. Ia melihat sekelumit bintang yang berkumpul dan bercengkrama dengan yang lainnya. Tiba-tiba Ibu memanggil, “Jun,tolong bantu ibu membereskan gudang!”, tanpa bertanya-tanya,Arjun segera lari dan menjawab “Baik Bu”. Begitulah yang dilakukan Arjun setiap malam minggu, ia sering mengisi malam minggu nya dengan melukis kata-kata pada secarik kertas. Ia memang suka menulis dan bersajak, meskipun ia tak pernah mengenyam pelajaran sastra. Ia selalu berusaha membuat puisi yang inspiratif maupun yang mewakili kisah-kisah dalam harinya.Suatu ketika,Ibunya mendapatkan kabar dari sekolah,bahwa si Arjun masuk dalam daftar siswa yang akan dikirim ke luar negeri.Setibanya Ibu di rumah,beliau membicarakannya dengan Arjun, “Yang benar Bu?,Saya kan kurang berprestasi di sekolah?,mengapa saya mendapatkan kesempatan tersebut bu?” Jawab si Arjun dengan kaget. “Iya nak,Ibu tadi dipanggil oleh Bapak Kepala Sekolah,untuk membicarakan informasi ini,kata beliau,kamu lolos kriteria. Selamat ya nak.Semoga Allah selalu melindungimu di sana” Sahut Ibu dengan senyum bahagia. “Iya Bu,Amiin Terimakasih” Senyum Arjun.

Setelah mendengar kabar tersebut,Ia menjadi bimbang,karena ia harus meninggalkan orang tuanya di tanah air.Selain itu, ia juga harus meninggalkan cinta pertamanya dibangku SMA. Namanya adalah Fidha, memang benar,si Arjun telah mencintai nya semenjak ia duduk di bangku SMA. Meskipun cintanya pernah di tolak,namun rasa cintanya tak pernah berkurang. Dan hal itulah yang menjadikan ia sangat-sangat berat untuk bertolak.Namun ada yang selalu berusaha menguatkan tekad Arjun untuk pergi ke luar negeri, yang tak lain adalah sahabatnya, yang bernama Anang dan Andi.Mereka bertiga telah akrab saat masa orientasi siswa.Dan mereka saling mendukung satu sama lain. “Ayolah jun,semangat jangan galau donk.Ini kesempatan langka lho.” sorak Andi. “Iya jun,orang tuamu dan si fidha pasti bangga kalau kamu jadi pergi.” tambah Anang. “Kalian benar kawan,terimakasih ya atas dukungannya” balas Arjun sambil tersenyum. “Iya kawan sama-sama” sahut Andi dan Anang. 1 hari sebelum keberangkatan,Arjun memohon do’a restu,sekaligus memohon maaf kepada guru-guru dan teman-temannya. Saat berjalan ke arah kantin, Arjun bertemu dengan Fidha, dan berkata “Fidh,Maafin aku ya atas semua kesalahanku,dan mohon do’a restunya ya”. “Iya sama-sama,lho kamu hendak pergi kemana?,kok pake mohon do’a restu segala?”,jawab Fidha .Rupanya Fidha tak tahu bahwa Arjun akan pergi ke luar negeri. “Lho kamu belum tahu ya kalau aku hendak pergi ke luar negeri?”,jawab Arjun. “Lho,yang bener?,kok kamu baru ngomong?”,jawab Fidha dengan sedikit kesal. “Maaf,Fidh,aku nggak punya waktu untuk ngebicarain soal ini sama kamu”,jawab Arjun. “Ih,kamu jahat”,jawab Fidha sambil lari menuju kelasnya. “Ehh… Fidh,tunggu..tunggu…”,sahut Arjun sambil mengejar dia.Namun bel berdering 2 kali,tanda istirahat berakhir.Sejak peristiwa itu,Arjun menjadi pemurung di kelas. “Eh Jun,kenapa kamu murung?”,tanya Andi. “Iya,kayak patung aja kamu”,sahut Anang.Akhirnya Arjun angkat bicara,ia menceritakan semuanya kepada sahabatnya. “Oh,gitu sabar ya,mungkin dia lagi badmood,coba aja nanti kamu telpon atau SMS dia gitu..,terus kamu minta maaf”,sahut Andi. “Atau,kamu kasih dia hadiah yang berkesan sebagai tanda permohonan maafmu padanya”,sambung Anang. “Iya,kalian benar,terimakasih kawan”,jawab Arjun dengan senyuman. “Oke sama-sama” sahut Andi dan Anang.

Hari keberangkatan pun tiba,sebelum keberangkatan,siswa-siswi yang hendak pergi berpamitan kepada segenap warga sekolah.Namun,Arjun tak nampak pada acara tersebut.Ternyata,ia pergi mencari Fidha untuk meminta maaf dan memberikan bingkisan tanda permohonan maafnya kepada Fidha.Lalu,ia mendengar bahwa Fidha tidak masuk sekolah pada hari itu.Tanpa pikir panjang,ia langsung pergi ke rumah Fidha untuk meminta maaf.Namun Naas,Arjun mengalami kecelakaan.Hari yang penuh suka cita menjadi hari yang kelam tak berbunga.Ia pun segera dilarikan ke ruang rawat inap terdekat.2 jam setelah di rawat,Arjun pun menghembuskan nafas terakhirnya,disamping orang tua dan sahabatnya.Pada malam harinya,Fidha bermimpi, di suatu taman yang indah ia bertemu Arjun,dan Arjun berkata ” Fidh,Maafin aku ya,aku nggak bilang sama kamu masalah waktu itu”. “Iya deh,aku maafin, maaf ya aku ngambek waktu itu”,balas Fidha. “Makasih ya,aku cinta kamu”,balas Arjun sambil tersenyum. “Aaakku juga,hati-hati ya di luar negeri” balas Fidha menatap malu.
Keesokan harinya,Ia bercerita kepada Anang dan Andi tentang mimpinya semalam.Namun setelah mendengar cerita itu mereka berdua menangis. “Lho kalian kok nangis?”,tanya Fidha. “Arjun kmaren meninggal Fidh” sahut Andi. “Lho,yang bener?”,tanya Fidha tegas. “Iya fidh,Arjun meninggal saat hendak kerumahmu kemaren,soalnya ia kmaren mau minta maaf kepadamu,tapi kamunya nggak masuk”,jawab Anang. “Jadi ia pergi kerumahmu”,tambah Andi. “Ya Allah,jadi…,kemarin itu…,mimpi itu…. Aaaaa!!” Fidha terkejut sambil menangis.Lalu Fidha berubah menjadi pemurung dan pikirnya dirundung duka setelah kematian Arjun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s